Minggu, 27 Mei 2012

FOTO RONTGEN



1.              Sinar X
Wilhelm Conrad Rontgen dilahirkan pada tahun 1845 di kota Lenep, Jerman. Di masa kecilnya ia sudah terlihat pandai dan tekun. Dalam usianya yang ke-24 (tahun 1869) dia sudah memperoleh gelar doktor dari Universitas Zurich. Sejak itu, ia bekerja di berbagai universitas. Pada tahun 1888 dalam usianya yang ke-43 dia diangkat sebagai mahaguru di bidang Fisika dan Direktur Lembaga Universitas Wurgurg. Tujuh tahun kemudian (tahun 1895) dia menemukan suatu penemuan yang sangat menggoncangkan dunia ilmu pengetahuan berupa sinar yang dapat menembus kulit yang dinamakan Sinar X ( Heryanto, 2010).
Penemuan itu sebenarnya terjadi secara kebetulan. Pada hari itu tanggal 8 November 1895 Rontgen sedang mengadakan percobaan sinar katoda di laboratorium. Sinar yang menuju layar ditutup rapat dengan karton hitam, ketika listik dinyalakan timbul berkas cahaya yang memijar, dan diketahui bahwa cahaya itu  merupakan bentuk radiasi yang tak terlihat. Ketika listrik dimatikan cahaya yang memijar tersebut juga padam. Karena hal ini merupakan sesuatu yang misterius, maka sinar itu kemudian dinamakan Sinar X. Percobaan selanjutnnya dilakukan  dengan menggunakan anggota badannya sendiri (tangan) sebagai objek tembakan sinar misterius tersebut dan menghasilkan gambaran berupa ruas-ruas jari.
 Dari percobaan yang telah dilakukan, Rontgen meyakini bahwa sinar X dapat menembus (menerobos) berbagai benda yang tak tembus oleh cahaya biasa. Sinar X dapat menembus langsung daging, tapi berhenti pada tulang, Sinar X berjalan menurut garis lurus dan tidak terbelokan oleh medan magnet maupun medan listrik. Dengan demikian terbukti bahwa Sinar X bukanlah partikel yang bermuatan listrik (Heryanto, 2010).
Dalam ilmu fisika, sinar X merupakan bentuk radiasi ion yang memiliki sifat bahaya jika mengenai tubuh manusia dalam intensitas yang tinggi. Sinar X terbentuk dalam pesawat Sinar X karena transfer energi kinetik menjadi foton.
Pada dasarnya pesawat sinar-X atau tabung katoda terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, sumber tegangan tinggi yang mencatu tegangan listrik pada kedua elektrode dalam tabung sinar-X, dan unit pengatur. Bagian pesawat sinar-X yang menjadi sumber radiasi adalah tabung sinar-X. Didalam tabung pesawat sinar-X yang terbuat dari bahan gelas terdapat filamen yang bertindak sebagai katode dan target yang bertindak sebagai anode. Tabung pesawat sinar-X dibuat hampa udara agar elektron yang berasal dari filamen tidak terhalang oleh molekul udara dalam perjalanannya menuju ke anode. Filamen yang di panasi oleh arus listrik bertegangan rendah menjadi sumber elektron. Makin besar arus filamen, akan makin tinggi suhu filamen dan berakibat makin banyak elektron dibebaskan persatuan waktu.
Menurut terjadinya, sinar X dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a.    Sinar X Brehmsstrahlung
Elektron yang bergerak dengan kecepatan tinggi karena pengaruh  beda potensial menabrak anoda. Saat menabrak anoda, elektron mengalami perlambatan  yg sangat darastis .

Gambar 1. Terjadinya Sinar X Bremsstrahlung

 Perlambatan elektron tersebut dibarengi dengan pelepasan energi yang terlihat seperti foton. Foton inilah yang disebut Sinar X Bremsstrahlung.

b.    Sinar X Karakteristik
Sinar-X dapat juga terbentuk dalam proses perpindahan elektron - elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah.

Gambar 2. Terjadinya Sinar X Karakteristik
Sinar-X yang terbentuk dengan cara seperti ini mempunyai energi yang sama dengan selisih energi antara kedua tingkat energi yang berkaitan. Karena energi ini khas untuk setiap jenis atom, sinar yang terbentuk dalam proses ini disebut Sinar-X Karakteristik.
Sinar x merupakan gelombang elektromagnetik yang mempunya panjang gelombang 10-8 – 10-12 m dan frekuensi sekitar 1016 -1021 Hz . Sinar X dapat menembus langsung daging, tapi berhenti pada tulang. Percobaan lain menemukan  bahwa sinar X berjalan menurut garis lurus dan tidak terbelokan oleh medan magnet maupun medan listrik. Dengan demikian terbukti bahwa Sinar X bukanlah partikel yang bermuatan listrik. Sinar x sering di gunakan di berbagai bidang seperti bidang kedokteran, fisika, kimia, mineralogy, metarulugi, dan biologi (Anis, 2007).

2.             Pemanfaatan Sinar X Dalam Bidang Kedokteran
Pemanfaatan sinar x dalam bidang kedokteran salah satunya adalah sebagai foto rontgen. Foto rontgen merupakan gambaran atau pencitraan yang dihasilkan oleh Sinar X yang ditembakkan ke tubuh pasien.

Gambar 3. Skema penggunaan Sinar X dalam dunia kedokteran

Pasien diposisikan diantara transmiter dan receiver dimana transmiter merupakan sumber dari radiasi Sinar X yang akan memancarkan gelombang Sinar X pada bagian tubuh pasien yang akan diamati.Hasil dari pencitraan Sinar X  berupa sketsa susunan tulang-tulang pada pasien yang diamati pada sebuah film.
Pada Foto Rongten dikenal dengan istilah densitas. Densitas  merupakan kerapat dari objek yang disinari dengan Sinar X, semakin padat konsistensi dan volume suatu benda semakin tinggi pula densitasnya. Benda-benda dengan  konsistensi padat atau cair akan berwarna putih pada hasil Foto Rontgen (Radioopesitas). Semakin rendah konsistensi, semakin hitam gambaran benda tersebut pada Foto Rontgen (Radiolusensi).

Gambar 4. Hasil pencitraan dari Foto Rontgen
Contoh benda berdensitas tinggi adalah,  jaringan padat seperti tulang, organ tubuh, dan jaringan lunak (soft tissue), sementara contoh benda berdensitas rendah adalah gas. Jaringan-jaringan tubuh dengan volume yang lebih tebal akan mengabsorbsi sinar X lebih baik. Tulang akan memberikan gambaran densitas yang lebih tinggi, sehingga tampak lebih putih daripada otot atau jaringan lemak.
Metode untuk melakukan Foto Rontgen ada 2 yaitu metode proyeksi PA (Postero Arterior) dan proyeksi AP (Artero Posterior). Proyeksi A.P merupakan posisi pasien pada saat pemeriksaan Foto Rontgen dimana arah Sinar X datang dari bagian depan tubuh penderita ke belakang, sedangkan proyeksi P.A memposisikan pasien didepan arah datangnya Sinar X. Sinar X datang dari bagian belakang tubuh penderita ke depan.

3.             Perkembangan Foto Rontgen
Teknologi Rontgen sudah lama digunakan dalam dunia kedokteran, terhitung saat fisikawan asal Jerman Wilhelm Conrad Rontgen menemukan sinar aneh yang kemudian diberi nama Sinar X. Sinar yang ditemukan oleh Rontgen ini mampu menembus bagian tubuh manusia sehingga sinar ini digunakan untuk pencitraan bagian – bagian dalam tubuh.
     Dengan prinsip Fisika bahwa sinar dapat menembus bagian – bagian tubuh, dikembangkan teknik pencitraan yang lebih baik. Teknik pencitraan pada saat ini mengembangkan teknik pencitraan konvensional (dua dimensi) menjadi pencitraan modern (tiga dimensi dan empat dimensi).
     Penggunaan sinar x sebagai foto rontgen sangat bermanfaat dalam segi pendiagnosaan penyakit, seperti yang telah di bahas sebelumnya bahwa sinar x dapat menembus benda-benda lunak karena frekuensinya yang tinggi. Foto rontgen generasi pertama hanya dapat menghasilkan pencitraan 2 dimensi atau masih biasa disebut dengan foto rontgen, namun lama kelamaan penggunaan sinar x tidak hanya digunakan sebagai foto rontgen saja, tapi diugunakan dalam CT ( Computerized Tomografy ) dan kemudian berkembang pula fluoroskopi.
     CT mulai digunakan oleh rumah sakit-rumah sakit sejak 1970an, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit dengan menggunakan sinar-x yang menggunakan metode tomografy ( 3 dimensi ). Alat ini akan menghasilkan keluaran berupa gambar 3 dimensi yang dihasilkan oleh penyinaran yang dilakukan secara memutar.

Gambar 5. Hasil CT scan
     Bentukan lain dari foto rontgen adalah fluoroskopi. Fluoroskopi adalah cara pemeriksaan yang mempergunakan sifat tembus sinar Roentgen dan suatu tabir yang bersifat fluo resensi bila terkena sinar tersebut. Fluoroskopi terutama diperlukan untuk menyelidiki pergerakan suatu organ/sistem tubuh seperti dinamika alat-alat peredaran darah, misalnya jantung dan pembuluh darah besar; serta pernapasan berupa pergerakan diafragma dan aerasi paru-paru. Karena pada fluoroskopi, baik penderita maupun pemeriksa mungkin terpapar sinar Roentgen sehingga dapat menyebabkan bahaya radiasi, maka perlu diperhatikan beberapa petunjuk agar bahaya sinar dibatasi pada tingkat minimum yang masih praktis. Output alat Roentgen harus diukur secara berkala dan tidak boleh melebihi 10 Rad per menit disebelah atas meja pemeriksaan (anonime, 2010).

4.             Kesimpulan
Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
         Foto rontgen dapat menghasilkan gmbaran tentang anatomi tubuh pasien tetapi hanya dalam bentuk 2 dimensi saja.
         Penggunaan foto rontgen menggunakan prinsip dari sifat-sifat sinar-x yaitu dapat menembus benda-benda lunak, dan tidak terbelokkan oleh medan magnet maupun medan listrik.
         Foto rontgen modern dapat mengetahui anatomi lebih detile secara 3 dimensi dan 4 dimensi mengguanakn metode CT scan dan fluoroskopi.


DAFTAR PUSTAKA

Anonime. 2008. X-Ray Machine. Online: http://www.discoveriesinmedicine.com/ diakses tanggal 23 Mei 2012 pukul 05.00 WIB
Anonime. 2010. Foto rontgen Fraktur. Online : http://www.scribd.com/ diakses tanggal 24 mei 2012 pukul 18.32 WIB
Anonime. 2010. Sejarah perkembangan CT scan. Online: http://www.gudangmateri.com/ diakses tanggal 26 Mei 2012 pukul 11.32 WIB
Endah, Maria. 2011. Penggunaan radiasi dalam klinik. Online : www.scribd.com diakses tanggal 26 Mei 2012 pukul 22.24 WIB
Hariri, Ahmad. 2010 . Aplikasi Sinar X Untuk Dunia Kedokteran. Online : http://portalradiografi.web.id/ diakses tanggal 23 Mei 2012 pukul 18.25
Heriyanto, A. 2010. Penemu sinar rontgen. Online: http://kisahpenemu.wordpress.com/ diakses tanggal 26 Mei 2012 pukul 10.15 WIB
Sby, Anis. 2007. Sinar-x. Online http://wss-id.org/  diakses tanggal 26 mei 2012 pukul 11.34 WIB
Susanto, Feri. 2008. Aplikasi radiasi sinar-x di bidang kedokteran untuk Menunjang kesehatan masyarakat . Tangerang : BATAN.
Susworo. 2007. Perkembangan Ilmu Radiologi.  Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar